Kepribadian Sehat
Menurut Aliran Psikoanalisa, Behaviorisme dan Humanistik
Berikut adalah
kepribadian sehat menurut 3 aliran, yaitu: aliran psikoanalisa , behaviorisme
dan humanistik. dimana disini akan terlihat beberapa perbedaan dari
masing-masing pandangan 3 aliran tersebut.
1.PSIKOANALISA
Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi
negatif, alam bawah sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini
juga mengabaikan potensi yang dimiliki oleh manusia, selain itu juga
berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang berkeinginan (homo volens).Dalam
pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun
yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya.
Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari.
Pandangan kaum psikoanalisa, hanya memberi
kepada kita sisi yang sakit dari kodrat manusia, karana hanya berpusat pada
tingkah laku yang neuritis dan psikotis. Aliran ini mempelajari kepribadian
yang terganggu secara emosional, bukan kepribadian yang sehat; atau kebribadian
yang paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik. Jadi, aliran ini
memberi gambaran pesimis tentang kodrat manusia, dan manusia dianggap sebagai
korban dari tekanan-tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak.
Aliran ini menyatakan bahwa struktur dasar
kepribadian manusia sudah terbentuk pada usia lima tahun. Freud membagi
struktur kepribadian dalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego.
Perilaku seseorang merupakan hasil interaksi antara ketiga komponen tersebut. Id
merupakan sumber dari insting kehidupan (makan, minum, tidur) dan insting
agresif yang menggerakkan tingkah laku. Id berorientasi pada prinsip
kesenangan. Ego sebagai sistem kepribadian yang terorganisasi, rasional,
dan berorientasi pada prinsip realitas. Superego merupakan komponen
moral kepribadian yang terkait dengan norma di masyarakat mengenai baik-buruk
atau benar-salah. Superego berfungsi untuk merintangi dorongan id,
terutama dorongan seksual dan sifat agresif, juga mendorong ego untuk
menggantikan tujuan realistik dengan tujuan moralistik, serta mengejar
kesempurnaan.
Secara umum perilaku manusia bertujuan dan
mengarah pada tujuan untuk meredakan ketegangan, menolak kesakitan dan mencari
kenikmatan. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan seksual mengarah pada perilaku
neurosis. Latihan pengalaman dimasa kanak-kanak berpengaruh penting pada
perilaku masa dewasa dan diulangi pada transferensi selama proses perilaku.
2. BEHAVIORISME
sedangkan dalam Aliran behaviorisme
ini,manusia diperlakukan sebagai mesin, yaitu di dalam suatu sistem kompleks
yang bertingkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Dalam
pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang
bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas,
kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas. Jadi, manusia
dilihat oleh para behavioris sebagai orang-orang yang memberikan respons secara
pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar dan manusia di anggap tidak memiliki
diri sendiri.
Behaviorisme menekankan perspektif psikologi
pada tingkah laku manusia, yakni bagaimana individu dapat memiliki tingkah laku
baru, menjadi lebih terampil, dan menjadi lebih mengetahui. Behaviorisme
memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap
lingkungan, pengalaman, dan pemeliharaan atas bentuk perilakunya. Tujuan aliran
psikologi Behaviorisme adalah mencoba memprediksi dan mengontrol perilaku
manusia sebagai introspeksi dan evaluasi terhadap tingkah laku yang dapat
diamati, bukan pada ranah kesadaran.
Hakikat aliran Behaviorisme adalah teori
belajar, bagaimana individu memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil,
menjadi lebih tahu. Kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan
perkembangan tingkah laku dalam hubungannya yang terus menerus dengan
lingkungannya. Menurut B.F. Skinner, cara efektif untuk mengubah dan mengontrol
tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan (reinforcement) dan
pemberian hukuman (punishment). Jadi, yang menjadi prinsip umum dalam
aliran Behaviorisme adalam tingkah laku sebagai objek, refleks atas semua
bentuk tingkah laku, dan pembentukan kebiasaan dalam individu.
3. HUMANISTIK
Dan
Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat itu , individu dituntut untuk
mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan
pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk
belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan
respon individu yang bersifat pasif.
Ciri
dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan
atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu.
Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap
individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk
menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya.namun untuk mencapai
aktualisasi diri,seseorang harus melewati 4 tahap sebelumnya, yaitu:(1) kebutuhan-kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan-kebutuhan akan rasa
aman, (3) kebutuhan-kebutuhan akan rasa cinta, (4) kebutuhan-kebutuhan akan
penghargaan. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas
martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi
humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat
mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga
harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara
potensial menghambat.
Gambaran
ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh
harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas,
memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut
kemampuan yang ada. Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan
manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat
biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap
hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah
sikap dan perilaku mereka.
Sumber :
Basuki,Heru A.M.(2008). Psikologi Umum.Jakarta:Universitas
Gunadarma.