
Hujaan...
seketika itu kau datang...
membasahi sekujur tubuhku.. dan membasahi segalanya
kulihat daun-daun basah tertiup angin..
mengingatkan aku akan sejuta cerita saat bersamanyaa...
awan yang gelap,
membuatku teringat saat aku bersedih ketika Dia mulai pergi dariku...
petir yang saling menyambar,
membuatku takut dan tak yakin bahwa aku bisa tanpanyaa..
tapi..
dengan rintikmu.. aku yakin perlahan semua akan menghilang..
dengan derasmu.. aku semakin yakin jejaknya akan terhapus dari hatiku..
Hujaan......
hapus jejaknya dalam hatiku..
hanyutkan memori tentangnya dari pikiranku...
pergilah dan bawalah Dia bersamamu hujan..
kutunggu..derasmu menjadi
gerimis dan gerimismu menjadi rintik..
hingga akhirnya hujanpun reda bersamaan datangnya pelangi
suatu saat yang kunanti yaitu bersamaan dengan berjalannya waktu
semua tentangnya musnah dari hidupku..
Dan pelangi yang indah ituu seolah meyakinkanku,
bahwa kebahagiaan itu akan datang....
hingga seketika mataharipun muncul.. saat itupula senyum itu kembali
senyum yang hadir saat aku sadar bahwa aku sudah bisa tanpa-nya.. :)
Hujan dan Dia~
(by:Ahmada Selvia)
to: you
Label: Puisi
Sepadunya Cinta dan Udara
Sepadunya Cinta dan Udara
Udara…
Sekumpulanmu yang tak terlihat..
*Layak cinta yang semu
Ketidaknyataanmu…
*Bagai cinta yang tak terbaca
Kesejukanmu…
*Seolah cinta yang begitu indah...
Kuhirup sehela nafas aroma kesejukanmu...
Kunikmati segala unsur yang ada padamu...
Seperti cinta….
Kusambut tulus kehadiranmu...
Kutelusuri indah semua unsur dalam cinta...
Cinta, layaknya udara yang selalu menebarkan kenyamanan bagiku...
Seketika polusi menghampiri…. Menodai kesejukanmu
Mengusik kenyamanan setiap penikmatmu......
Sepadan dengan hal nya cinta
Cinta yang tercampur dengan ketidaksetiaan
Merusak kebahagiaan sang pemiliknya…
Udara dan cinta…. Bersih dan suci
Dua hal berbeda tapi sepadu
Menebarkan kenyamanan jika disambut indah
Dan mengusik jika ternodai.
(Ahmada Selvia)
Label: Puisi
Psi.Manajemen#
Selamat datang
kembali diblog saya (Ahmada selvia),,, pada tulisan kali ini saya akan membahas
mengenai Komunikasi, LeaderShip beserta Teori Kepemimpinan. Berikut tulisan
saya... check it out ):
Yang pertama adalah Desinisi Komunikasi.
Istilah komunikasi awalnya
mengandung makna “bersama-sama” (common,commones) yang berasal dari bahasa
Inggris. Asal istilah komunikasi (Indonesia) atau communication(Inggris)
berasal dari bahasa Latin yaitu communication, yang berarti pemberitahuan,
pemberi bagian (dalam sesuatu), pertukaran dimana si pembicara mengharapkan
pertimbangan atau jawaban dari pendengaranya; untuk ikut ambil bagian
( Liliweri, 1991: 1).
Komunikasi juga dapat
diartikan sebagai suatu proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang
bermakna sebagai panduan pikiran dan perasaan berupa ide, informasi,
kepercayaan, harapan, imbauan; yang dilakukan seseorang kepada orang lain
secara tatap muka maupun tidak langsung, melalui media, dengan tujuan mengubah
sikap, pandangan, ataupun perilaku ( Effendy, 2003:60).
Banyak ahli mendefinisikan
komunikasi dalam berbagai sudut pandang yang macam-macam, dan menyebutkan
bahwailmu komunikasi sebagai ilmu yang eklisitis yaitu ilmu yangmerupakan
gabungan dari berbagai disiplin ilmu. Pada dasarnya komunikasi adalah sebagai
proses pernyataan antara manusia, yang dapat berupa pikiran atau perasaan seorang
kepada orang lain dengan menggunakan lambang (bahasa) baik verbal maupun non
verbal sebagai alat penyalurnya.
Berikut adalah Pengertian komunikasi dikemukakan
para ahli :
1.Menurut Harold Laswell, komunikasi adalah Siapa
yang mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa (who says
what in which channel to whom with what effect) (Purba, 2007 :30)
2.Menurut Carl I.Hovland, komunikasi adalah proses
dimana seseorang individu mengoperkan perangsang untuk mengubah tingkah laku
indivdu-individu yang lain.
3.Menurut Rogers bersama D Lawrence Kincaid,
komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau
melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada giliranya
akan tiba pada saling pengertian yang mendalam (Cangara, 2005:19)
Nahh... sudah pada tahu kan
pendapat para ahli mengenai Komunikasi ???? Jadi, dari 3 definisi yang telah
diberikan oleh para ahli tersebut pada dasarnya komunikasi diartikan sebagai
proses penyampaian pikiran dan perasaan dari seseorang kepada orang lain dengan
menggunakan lambang, kata-kata dan symbol-simbol untuk tujuan merubah sikap
atau tingkah laku orang lain/
Kemudian berikutnya mengenai Dimensi Komunikasi,
Tiga Dimensi Penting Yang Mendasari Definisi-definisi Komunikasi :
Dimensi Pertama : Tingkat Observasi atau derajat keabstrakannya Misalnya, definisi
komunikasi yang menyatakan "komunikasi adalah proses yang
menghubungkansatu sama lain bagian-bagian terpisah dari dunia kehidupan"
adalah terlalu umum,sementara definisi komunikasi yang menyatakan bahwa
"komunikasi sebagai alat untuk mengirim pesan militer, perintah,dan
sebagainya lewat telepon, telegraf,radio, kurir, dan sebagainya" terlalu
sempit.
Dimensi Kedua : Kesengajaan (intentionality), Sebagian definisi mencakup hanya
pengiriman dan penerimaan pesan yang disengaja; sedangkan sebagian definisi
lainnya tidak menuntut syarat ini. Contoh definisi yang mensyaratkan
kesengajaan (Gerald E Miller) komunikasi sebagai "situasi-situasi yang
memungkinkan suatu sumber mentransmisikan suatu pesan kepada seorang penerima
dengan disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima". Sedangkan definisi
yang mengabaik
an kesengajaan (Alex Code) " suatu proses yang membuat sama bagi dua
orang atau lebih apa yang tadinya merupakan monopoli seseorang atau sejumlah
orang".
Dimensi Ketiga : Penilaian Normatif, Sebagian definisi meskipun secara implisit,
menyertakan keberhasilan atau kecermatan; sebagian tidak demikian. Definisi
komunikasi dad John B Hoben, misalnya mengasumsikan bahwa komunikasi itu(harus)
berhasil: "Komunikasi adalahpertukaran verbal pikiran atau gagasan".
Asumsi dibalik definisi adalah suatu pikiran atau gagasan secara berhasil
dipertukarkan. Sebagian definisi lainnya tidak otomatis mensyaratkan
keberhasilan, seperti definisi komunikasi dari Berard Berelson dan Gary
Steiner: "Komunikasi adalah transmisi informasi" , definisi ini tidak
mensyaratkan bahwa informasi itu harus diterima atau dimengerti.
Pembahasan yang Ketiga yaitu mengenai Definisi LeaderShip
Kepemimpinan
atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab
prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi
kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002). Ada banyak definisi kepemimpinan yang
dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-
definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
Definisi
Kepemimpinan menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) adalah kegiatan
atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan
orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang
diinginkan kelompok. Kepemimpinan menurut Young (dalam Kartono, 2003) lebih
terarah dan terperinci dari definisi sebelumnya. Menurutnya kepemimpinan adalah
bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong
atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh
kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Dalam
teori kepribadian menurut Moejiono (2002) memandang bahwa kepemimpinan tersebut
sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki
kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para
ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang
kepemimpinan sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung
dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin
(Moejiono, 2002).
Berikutnya adalah mengenai Teori Kepemimpinan.
Beberapa teori Kepemimpinan tersebut adalah sebagai berikut:
1.Douglas Mc Gregor : Teori X dan Y
Salah satu kontribusi yang paling banyak
disebut dari para teoritikus Tipe 2 atau Teori Organisasi Klasik adalah tesis
Douglas McGregor yang menyatakan bahwa ada dua pandangan tentang manusia: yang
pertama dasarnya negatif – Teori X – dan yang lainnya pada dasarnya positif – Teori
Y. Teori X dan Teori Y yang ia ajukan dalam memandang manusia (pegawai).
Setelah meninjau bagaimana manajer berhubungan
dengan pegawai, McGregor menyimpulkan bahwa pandangan manajer seputar sifat
manusia didasarkan pada kelompok asumsi tertentu dan ia cenderung memperlakukan
pegawai berdasarkan asumsi-asumsi tersebut. Asumsi ini dapat bersifat negatif
(Teori X) atau positif (Teori Y).
Di bawah Teori X ada empat asumsi yang dianut oleh
para manajer:
- Pegawai tidak menyukai pekerjaannya dan sebisa mungkin akan berupaya menghindarinya.
- Karena pegawai tidak menyukai pekerjaannya, mereka harus diberi sikap keras, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman agar mau melakukan pekerjaan.
- Pegawai akan mengelakkan tanggung jawab dan mencari aturan-aturan organisasi yang membenarkan penghindaran tanggung jawab tersebut.
- Kebanyakan pegawai menempatkan rasa aman di atas faktor lain yang berhubungan dengan pekerjaan dan hanya akan memperlihatkan sedikit ambisi.
Kebalikan dari pandangan yang negatif terhadap
manusia, McGregor menempatkan empat asumsi lain yang disebut Teori Y:
- Para pegawai dapat memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang biasa sebagaimana halnya istirahat dan bermain.
- Manusia dapat mengendalikan dirinya sendiri jika mereka punya komitmen pada tujuan-tujuan.
- Rata-rata orang dapat belajar untuk menyetujui, bahkan untuk memikul tanggung jawab.
- Kreativitas – yaitu kemampuan mencari keputusan yang terbaik – secara luas tersebar di populasi pekerja dan bukan hanya mereka yang . menduduki fungsi manajerial.
Douglas McGregor IMG
Implikasi dari Teori X dan Teori Y McGregor terhadap
organisasi adalah bahwa asumsi-asumsi Teori Y lebih dapat diterima dan dapat
menuntun manajer dalam mendesain organisasi dan memotivasi para pegawai. Tahun
1960-an antusiasme pekerja cukup tinggi untuk berpartisipasi dalam proses
pembuatan keputusan organisasi, penciptaan tanggung jawab dan tantangan
pekerjaan, termasuk pembangunan hubungan kelompok-kelompok kerja yang lebih
baik. Antusiasme ini, sebagian besar, diakibatkan oleh Teori Y dari McGregor.
2. The
Four System Theory Rensis Likert
Variabel
Kepemimpinan Sistem 1 Sistem 2 Sistem 3 Sistem 4
Kepercayaaan
dan penghargaan pada bawahan Tidak ada kepercayaan dan penghargaan pada
bawahan. Memiliki rasa rendah diri kepercayaan dan penghargaan, seperti tuan
terhadap pelayan. Kuat tetapi tidak lengkap dalam kepercayaan dan penghargaan;
masih mengharapkan menguasai control keputusan. Kepercayaan dan penghargaan
lengkap untuk segala hal.
Perasaan
kebebasan bawahan Bawahan sama sekali tidak merasa bebas untuk berdiskusi
tentang pekerjaan dengan atasannya. Bawahan tidak merasa amat bebas untuk
berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya. Bawahan agak merasa bebas untuk
berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya. Bawahan merasa bebas sepenuhnya
untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya.
Atasan
mencari keterlibatan dengan bawahan Jarang mengambil gagasan dan pendapat dari
bawahan dalam pemecahan masalah. Kadang-kadang mengambil gagasan dan pendapat
bawahan dalam pemecahan masalah kerja. Biasanya mengambil gagasan dan pendapat
bawahan dan biasanya mencoba membuat berguna dengan memakai gagasan dan
pendapat mereka. Selain meminta bawahan untuk menyampaikan gagasan dan pendapat
dan selalu mencoba membuat berguna dengan memakai gagasan dan pendapat mereka
Dari uraian 4 sistem managemen ini terdapat adanya 2
sistem yang ekstrem yaitu system 1 dan system 4. Perbedaan antara kedua system
ekstrem tersebut dikemukakan oleh James A.F.Stoner sebagai berikut:
Ciri
Sistem 1 Sistem 4
Proses kepemimpinan Kepercayaan dan kerahasiaan
atasan bawahan yang rendah. Bawahan tidak merasa bebas untuk mendekati atasan.
Atasan tidak melibatkan bawahan dalam pemecahan masalah. Kepercayaan dan
kerahasiaan atasan bawahan yang tinggi. Bawahan mendiskusikan secara bebas
pokok-pokok pekerjaan dengan atasan. Pimpinan selalu benar-benar melibatkan
bawahan dalam memecahkan masalah.
Proses komunikasi Aliran informasi terutama ke
bawah. Atasan melakukan hal itu secara minimum dan bawahan mencurigainya.
Komunikasi ke atas dibatasi dan tidak seksama. Hubungan mendatar dibatasi
karena pertentangan dan kecurigaan antar bawahan secar psikologis ada jarak dan
saling merasakan secara tidak seksama. Informasi mengalir dengan bebas dan
dengan tepat ke semua arah. Bawahan menerima menerima atau menanyakan dengan
tulus komunikasi ke bawah. Atasan dan bawahan secara psikologis merupakan
sahabat dan saling merasakan dengan seksama.
Proses saling pengaruh mempengaruhi Saling pengaruh
atasan bawahan yang terbatas ditandai oleh ketakutan dan rasa tidak percaya.
Pengaruh yang terbatas oleh bawahan kecuali melalui saluran informal dan
perkumpulan pekerja. Saling pengaruh yang ramah serta luas, kepercayaan yang
tinggi, dan kerahasiaan antara atasan dan bawahan. Pengaruh yang tinggi oleh
bawahan secara langsung dan melalui perkumpulan pekerja.
Proses pembuatan keputusan Keputusan dibuat oleh
atasan dengan sedikit atau tanpa pengetahuan tentang masalah dari tingkat yang
lebih rendah atau tanpa melibatkan bawahan. Keputusan dibuat oleh peran serta
kelompok dan biasanya konsensus dengan kesadaran tinggi tentang masalah dari
tingkat yang lebih rendah.
Proses penentuan tujuan Penetapan tujuan dengan
perintah dari atasan. Biasanya penetapan tujuan dengan peran serta
kelompok.Proses kontrol Perhatian utama untuk pelaksanaan fungsi control
dibatasi pada tingkat puncak. Perhatian untuk pelaksanaan fungsi control
dirasakan seluruh organisasi.
Akhirnya Likert mengemukakan kesimpulan bahwa
organisasi yang tidak produktif disebabkan adanya kecenderungan pemimpin ke
arah perilaku sistem I dan II. Sebaliknya produktivitas tinggi yang dapat
dicapai oleh suatu organisasi, banyak ditentukan oleh adanya gaya kepemimpinan
yang konsultatif atau partisipatif atau kepemimpinan sistem ke-IV.
3.Teori
Leadership Continuum dari Tannenbaum and Schmidt
Robert Tannenbaum, Living R. Wischler, Fred Massarik
mengemukakan definisi kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi pada suatu
keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah tercapainya suatu
tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan.
Model Leadership Continuum merupakan hasil pemikiran
Robbert Tannenbaum dan Warren H. Schmidt. Seperti dikemukakan dalam perilaku
atau disebut juga gaya pada hakikatnya merupakan tingkah laku pemimpin sampai seberapa
jauh hubungannya dengan bawahan di dalam rangka pengambilan keputusan.
Menurut
teori kontinum ada tujuh tingkatan hubungan pemimpin dengan bawahan:
1.
Pemimpin membuat dan mengumumkan keputusan terhadap bawahan (telling).
2.
Pemimpin menjual dan menawarkan keputusan terhadap bawahan (selling).
3.
Pemimpin menyampaikan ide dan mengundang pertanyaan.
4.
Pemimpin memberikan keputusan tentative, dan keputusan masih dapat diubah.
5.
Pemimpin memberikan problem dan minta saran pemecahannya kepada bawahan
(consulting).
6.
Pemimpin menentukan batasan-batasan dan minta kelompok untuk membuat keputusan.
7.
Pemimpin mengizinkan bawahan berfungsi dalam batas-batas yang ditentukan
(joining).
Jadi,
berdasrkan teori kontinum, perilaku pemimpin pada dasarnya bertitik tolak dari
dua pandangan dasar :
1.
Berorientasi kepada pemimpin
2.
Berorientasi pada bawahan
Dan
teori kontinum ini oleh Tannenbaum dan Schmidt dilukiskan dengan model atau
gambar.
Model
atau gambar tersebut dapat diterangkan sebagai berikut:
1.
Semakin bergeser ke kanan, semakin meluas kebebasan bawahan, sehingga semakin
nyata bawahan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Dan sebaliknya
semakin sempit otoritas pemimpin. Jadi perilaku pemimpin berorientasi kepada
bawahan atau disebut kepemimpinan yang bergaya demokratis.
2.
Semakin bergeser ke kiri, semakin meluas otoritas pemimpin. Sehingga semakin
sempit atau semakin dibatasi kebebasan bawahan di dalam keterlibatan
pengambilan keputusan. Jadi, perilaku pemimpin berorientasi kepada pemimpin
atau dapat disebut pula kepemimpinan yang bergaya otoriter.
Variabel Kepemimpinan Sistem 1 Sistem 2 Sistem 3 Sistem 4
Kepercayaaan dan penghargaan pada bawahan Tidak ada kepercayaan dan penghargaan pada bawahan. Memiliki rasa rendah diri kepercayaan dan penghargaan, seperti tuan terhadap pelayan. Kuat tetapi tidak lengkap dalam kepercayaan dan penghargaan; masih mengharapkan menguasai control keputusan. Kepercayaan dan penghargaan lengkap untuk segala hal.
Perasaan kebebasan bawahan Bawahan sama sekali tidak merasa bebas untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya. Bawahan tidak merasa amat bebas untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya. Bawahan agak merasa bebas untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya. Bawahan merasa bebas sepenuhnya untuk berdiskusi tentang pekerjaan denganatasannya.
Atasan mencari keterlibatan dengan bawahan Jarang mengambil gagasan dan pendapat dari bawahan dalam pemecahan masalah. Kadang-kadang mengambil gagasan dan pendapat bawahan dalam pemecahan masalah kerja. Biasanya mengambil gagasan dan pendapat bawahan dan biasanya mencoba membuat berguna dengan memakai gagasan dan pendapat mereka. Selain meminta bawahan untuk menyampaikan gagasan dan pendapat dan selalu mencoba membuat berguna dengan memakai gagasan dan pendapat mereka.
Sumber
:
Label: Tulisan
Subscribe to:
Komentar
(
Atom
)





