Belajar Psikologi Wanita Dari Ummi Khadijah RA (1): Potret Seorang Muslimah
Sejati
Dalam konten psikologi Islami, semangat dari psikologi
wanita adalah keteladanan. Cara ini dengan mudah untuk dipahami, karena kita
dapat melihat realitas yang ada dari tokoh muslimah yang memberikan contoh
berakhlak yang baik sebagai wanita. Dalam kesempatan ini, kita coba akan
mengangkat Ummi Khadijah binti Khuwailid RA sebagai jalan menemukan itu.
Istri nabi Muhammad yang pertama ini diangkat semata-mata
telah memberikan tafsiran ulang mengenai arti seorang wanita bagi kita semua. Wanita
yang tersudutkan terhadap definisi kecantikan dan muda secara empirik, namun
terlempar dari fakta keteladanan bagi dinamika kehidupan.
Ummi Khadijah bagai dahaga bagi kaum muslim, karena
walaupun secara umur jauh diatas Nabi Muhammad dan dapat dibilang sedang
melewati masa tua, namun api jiwa enerjiknya terus menyala walau telah dihantam
berbagai ujian. Ini penting bagi kita yang justru menaruh makna masa tua
sebagai menurunnya aktivitas dan spirit.
Asam Garam seorang Istri
Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada
zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai
bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih
dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat
kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam
lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya berkembang menjadi wanita
cerdas dan agung. Ummi Khadijah RA juga dikenal sebagai seorang yang teguh dan
cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah, tak heran banyak
laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya. Tidak hanya berhenti pada
fase mengagumi, tapi juga menikahi.
Sebenarnya, pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah
bin Zurarah at-Tamimi dan membuahkan dua orang anak yang kemudian diberi nama
Halah dan Hindun. Tatkala Abu Halah wafat, Ummi Khadijah kemudian dinikahi oleh
Atiq bin 'A'id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun
akhirnya mereka cerai.
Setelah itu babak baru dijalani. Banyak dari para pemuka-pemuka
Quraisy yang menginginkan beliau, tetapi Ummi Khadijah RA lebih memprioritaskan
perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya. Pun saat itu Ummi Khadijah berada
pada basis waktu yang sibuk mengurusi perniagaan dimana beliau melambung
menjadi wanita kaya raya berkat kesuksesan bisnisnya.
Sampai suatu ketika, beliau hendak mencari orang yang
dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad
sebelum bi'tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan
berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan
dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Akhirnya, beliau
memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh
selainnya. Sejak itu Muhammad memasuk fase baru dalam karir niaga pada konteks
Arab waktu itu.
Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah
beliau bersama Maisarah, dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut
menghasilkan laba yang begitu melimpah. Sontak Ummi Khadijah merasa gembira dengan
hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad. Akan tetapi disamping
itu semua, pada kenyataannya ketakjuban Ummi Khadijah RA terhadap kepribadian
Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari sekedar kumpulan harta yang ada. Maka
mulailah muncul perasaan dan biduk aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum
pernah beliau rasakan sebelumnya. Dalam pandangan Ummi Khadijah, pemuda ini
yang tak lain Muhammad, tidak sebagamana kebanyakan laki-laki lain yang ada.
Kepercayaan Diri seorang Wanita
Suatu kali Ummi Khadijah merasa pesimis; apa mungkin
pemuda tersebut mau menikahinya? Mengingat umurnya sudah renta, bayangkan 40
tahun? Apa kata orang-orang nantinya karena Ummi Khadijah sendiri telah menutup
pintu bagi para pemuka Quraisy yang sebelumnya telah gigih melamarnya.
Maka disaat Beliau bingung dan gelisah karena problem
yang menggelayuti pikirannya itu, tiba-tiba muncullah seorang temannya bernama
Nafisah binti Munabbih. Selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga
kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khodijah
tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah layaknya konselor
mencoba membesarkan hati Ummi Khadijah RA dan menenangkan perasaannya dengan
mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat,
keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik. Terbukti dengan
banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.
Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah,
dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan
kelihaian dan kecerdikannya seorang Nafisah melempar dadu cinta Ummi kepada
lelaki terpercaya itu:
Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai
Muhammad?
Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah.
Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan
untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah
kamu mau menerimanya?
Muhammad : Siapa dia ?
Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah
binti Khuwailid
Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju.
Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar
gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman
beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah
Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin
Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan
mahar.
Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad
al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik
dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada
kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka
dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad
ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah
menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu 'anhu agar dia
dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.
Di sinlah letak keberanian dan bentuk PD seorang wanita
yang tidak harus dipusingkan dengan kecantikkan dan melulu ingin merasa muda
secara fisik. Karena bagi Ummi segalanya adalah kedewasaan hati dan keikhlasan
atas potensi diri yang membuatnya yakin bahwa Muhammad adalah pilihan terbaik
dan mau meminangnya.
Sebuah Komitmen Teguh
Jika Sternberg memberi sinyal komitmen adalah bagian inti
dari cinta sejati, namun tak ada orang selain Khadijah yang memberikan komitmen
melebihi garis yang didefinisikan Sternberg. Suatu ketika Allah Ta'ala
menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan
tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau
menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira' sebulan penuh
pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal
yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah
yakni menyembah berhala dan lain –lain.
Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan
Sang Suami yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau
mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak
berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya
dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila
dia melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya
senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh
orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang
menyendiri.
Ketika Rasullullah mulai mendekam di Gua Hira dan
mendapatkan wahyu yang membuat Rasululah ketakutan dengan minta untuk
diselimutkan. Maka Istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya
dengan percaya diri dan penuh keyakinan, berkatalah ia: "Allah akan
menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah
hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku berharap agar anda
menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya,
sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang
memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran."
Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan
kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya
terhadap apa yang beliau bawa. Sebagai istri, Ummi Khadijah tahu betul
psikologis Rasulullah SAW dan apa yang diinginkan sang suami jika mendalami
situasi mencekam yaitu sifat menghibur dan memberi situasi nyaman.
Ummi Khadijah akhirnya merubah mindset bagi kita,
bahwa istri tidak boleh lantas redup jika sang suami mengalami kesulitan. Akan
tetapi, situasinya harus melengkapi dan Ummi Khadijah melalukan itu dengan
terkesan menjadi “suami” bukan istri dalam definisi sempit. Inilah sebuah
pencerdasan paradigma perempuan untuk bersama-sama kontrukstif dalam bingkai
rumah tangga. Tidak lantas surut ketika situasi sang suami ditimpa musibah.
Karena suami bukanlah segala-galanya, ia juga makhluk lemah, bisa sakit, dan
sewaktu-waktu bisa meninggalkan kita semua. Sudah siapkah para perempuan?
Belajarlah dari Ummi Khadijah RA. (Pz/dbs)
Sumber
: http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/belajar-psikologi-wanita-dari-ummi-khadijah-ra-1-potret-seorang-muslimah-sejati.htm
trimakasih
kepada sumber ^_^